Loading...

Visit Colonial Cirebon

Thursday, 30 October 2014

0 comments
The great original content of "Colonial Cirebon, a romantic experience from the good olden days"
by drs (MSc) Dirk Teeuwen, Holland

Picture 1. Balai Kota, City Hall along Jalan Siliwangi (formerly Kadjaksanweg), an architectural masterpiece in a mixture of Amsterdam (business-like) style and frivolous art deco. A creation of the Dutch architect J. J. Jiskoot, 1927. Cirebon is known as Prawn City, Kota Udang. Large plaster stucco prawns are visible around the top of the building   
Cirebon was, in days gone by, the capital of a sultanate. The most attractive route to Cirebon is the approach
from Bandung. The best hotel in Cirebon is without doubt Hotel Puri Santika. The guests can have dinner, often with fine seafood, near the swimming pool. Puri Santika is an excellent starting point to visit the very beautiful colonial city centre, its kratons (sultan’s palace forts) and its colonial harbour. 

Only a few tourists make a trip to this town. I hope that the Cirebon municipal government will never try to stimulate tourism. A visit to Cirebon means: no herds of Europeans, no  simple minded Americans and no Japanese walking around obtrusively in a single-minded way.

Cirebon must remain as it is now (please!): for the benefit of the Cirebonese and of myself of course. Mark! “Formerly”, in my text following now, means “in the Dutch period”.

Picture 2. The author Dirk Teeuwen in front of the sentry box near the resident’s office of Cirebon         
1. Around Jalan Siliwangi
Picture 3. Beside the City Hall there is much more to see around Jalan Siliwangi, formerly Kadjaksanweg. The colonial Dutch resident’s office, for example, was constructed approximately in 1880

Picture 4 (below, of course). The inner court of the resident’s office.

Picture 5. The front verandah of the resident’s office above-mentioned.

Picture 6. The business-style Dutch railway station from 1929 with its stained windows

Picture 7. The railway station from 1929
 2. Around Cirebon harbour: the Dutch colonial quarter

Picture 8. Dutch trade offices (1924) along Jalan Pasuketan

Picture 9. Flowers from Cirebon: Cirebon beauties, photographed by surprise by the author, during a powdery break
Picture 10. Jalan Pasuketan, formerly Pasoeketan, Bank Escompto in the Dutch period (appr. 1920)
Picture 11. The colonial Clubhouse Phoenix, Sociƫteit Phoenix (appr. 1925), along Jalan Yos Sudarso, formerly Tjangkolweg. There is not so much to see on this picture. But the fact, that the clubhouse survived turbulent times, is very remarkable

Picture 12. The Dutch (and Indonesian nowadays) post-office (appr.1925), along present Jalan Yos Sudarso
Picture 13. Bank Indonesia (1915), formerly Javasche Bank, along Jalan Yos Sudarso.
Picture 14. More Dutch business offices (1920) can be find along Jalan Pasuketan, building period 1920-1930.
Jalan Pasuketan runs from the south to the harbour in the north of Cirebon
 3. Kratons, sultan’s palaces of Cirebon

Picture 15. Kraton Kasepuhan from 1528 is a visit for the full value
Picture 16 . A part of the interior of kraton Kasepuhan (1589) in Dutch style

Picture 17. The entrance in Balinese style of kraton Kanoman

Picture 18. One of the reception rooms of kraton Kasepuhan

Picture 19. The author with princess Etcha of kratonKecirebonan, a nice and very hospitable lady.
The small but beautiful kraton (1838) is still occupied by members of the sultan’s family. All the same: visitors are very welcome and so are there donations.

Picture 20. Part of the pendopo of kraton Kecirebonan, Cirebon

Picture 21. Mesjid, mosque, Agung close to kraton Kasepuhan from 1591



 
4. Cirebon’s colonial harbour
 
Picture 22. Speaks for itself.

Picture 23. Dutch warehouse from 1918

Picture 24. Another fine example of a Dutch warehouse from the same period.

Picture 25. Our last one! Ofice of the harbour master (1892)
-End-

Many Thanks to drs (MSc) D. Teeuwen
© drs (MSc) D. Teeuwen | 2002

Selamat Hari Raya Idul Adha

Friday, 3 October 2014

0 comments

Cirebon Cakrabuana
Mengucapkan
Selamat Hari Raya Idul Adha
2014

Koran Pertama Cirebon “Tjiremai”

Friday, 26 September 2014

0 comments
DALAM sejarah pers di Indonesia, surat kabar “Bataviase Nouvelles”, terbit 7 Agustus 1744, surat kabar pertama di Indonesia, penerbitnya Gubernur Jenderal Van Imhoff. Izin terbitnya diberikan kepada Adjunct-Secretaris-General Jorden. Izin terbit enam bulan, kemudian diperpanjang menjadi tiga tahun. Pada tanggal 5 Agustus 1810 terbit “De Bataviasche Koloniale Courant”. Itu zaman Daendels-Inggris.

Penelusuran Radarcirebon.com di Depo Arsip Kota Cirebon, perkembangan pers di Jawa Barat, sejak awal menjadi catatan penting dan strategis dalam sejarah media cetak di Indonesia. Di beberapa daerah di Jawa Barat, baik di Bandung, Bogor, Tasikmalaya, Cirebon, Sukabumi, dan Banten, silih berganti kaum nasionalis menerbitkan surat kabar. Pengelolaan media secara profesional dikembangkan. Idealisme kejuangan mewarnai konten dari media. Media massa, khususnya surat kabar pada masa itu oleh kaum nasionalis digunakan dan dimanfaatkan sebagai alat perjuangan dalam menentang penjajahan Belanda. Karena itulah surat kabar sering berumur tidak panjang dan pimpinannya sering pula berurusan dengan polisi rahasia yang senantiasa mengawasi dan memata-matai kaum pergerakan nasional. Sangat terkenal waktu itu Polisi Rahasia Belanda, PID (Politieke Inlichtingen Dienst). Segala laporan PID menjadi dasar bagi Belanda untuk melakukan tindakan pelarangan penerbitan koran dan memenjarakan orang-orang surat kabar.

Penerbitan surat kabar yang berbahasa Indonesia/Melayu dan surat kabar berbahasa daerah Sunda secara kuantitatif berimbang jumlahnya. Surat kabar berbahasa Sunda tampaknya lebih akrab dengan masyarakat Jawa Barat terutama di daerah Priangan. Asas kedekatan komunitas tampaknya berpengaruh. Ada pula surat kabar yang berbahasa Belanda dan Tionghoa.

Jauh sebelum “Medan Prijaji” terbit, di Cirebon sudah ada surat kabar “Tjiremai” (1890) dalam bahasa Belanda, tertulis Zaterdag, 28 Februari. Koran berbahasa Belanda ini tersimpan di Perpustakaan Nasional RI.

Di Cirebon tercatat “Poesaka Cirebon” pimpinan Darma Atmadja, “Warta Tjirebon” dan “Soeloeh Ra’jat” pimpinan Anwar Djarkasih. Tahun 1932 tercatat “Soeara Poeblik” (Bandung) pimpinan Soejitno dan Liem Koen Hian.

Ada catatan yang tersisa dari perkembangan pers Jawa Barat. Setelah terjadinya pemberontakan “Kaoem Merah” November 1926, sejumlah surat kabar terbit di beberapa kota Jawa Barat, khususnya di Kota Bandung. Tercatat di Bandung terbit koran “Indonesia Moeda”. Terbit pula “Fikiran Ra’jat” yang sangat terkenal dengan tulisan Bung Karno, Indonesia Menggoegat. Pemikiran dan tulisan Bung Karno yang dimuat di “Fikiran Ra’jat” itulah yang membawanya ke sidang pengadilan dan divonis penjara.

Pada tahun 1935 di Bandung tercatat penerbitan koran “Nicork – Express”, koran stensilan pertama di Bandung kemudian menjadi harian dengan Pemimpin Umum/ Pemimpin Redaksi Bratanata. Jajaran redaksinya Djamal Ali dan Ahmad Zainun Soetan Palindih. Selanjutnya terbit “Berita Priangan” dipimpin Ali Ratman dengan Pemred O.K. Yaman dan Bakri Soera Atmadja. Ada pula “Sepakat” dipimpin A. Hamid. Koran Indonesia dipimpin Moh. Koerdie dan Rochdi. “Berita Oemoem” lahir sebagai kelanjutan dari “Berita Priangan” dipimpin Soenarjo Gondokoesoemo dan Ali Tirto Soewirjo.

Ramainya penerbitan koran berbahasa Melayu/Indonesia di Jawa Barat, pada waktu bersamaan diikuti oleh penerbitan berbahasa Sunda. Penerbitan media cetak berbahasa Sunda di kala itu tidak dapat dipisahkan dari pergerakan kaum nasionalis di wilayah Jawa Barat.

Menurut catatan, surat kabar berbahasa Sunda pertama yang diterbitkan di Bandung adalah “Sora-Merdika” pimpinan Moh. Sanoesi. Tahun I No. 3 terbit pada tanggal 1 Mei 1920. Ada pula yang menyatakan, surat kabar pertama berbahasa Sunda itu adalah Soenda Berita, tetapi belum jelas kapan terbitnya. Di masa itu terbit pula “Mingguan Soenda Soemanget” diasuh Tunggono. Mingguan bahasa “Sunda Padjadjaran” dipimpin Haris Soema Amidjaja dan “Siliwangi” diasuh Ema Brata Koesoema. Tercatat pula data terbitnya “Pendawa”, pimpinan Gatot. Terbit pula berkala berbahasa Sunda, “Masa Baroe”, “Sapoedjagad”, “Simpaj” dan “Isteri Merdeka”. Ada pula penerbitan koran “Panglima” di Tasikmalaya.

Di zaman pendudukan Jepang semua surat kabar yang ada di Bandung dan Jawa Barat ditutup. Semuanya disatukan menjadi satu penerbitan yaitu surat kabar “Tjahaja” di bawah pengawasan Sendenbu. Pimpinan “Tjahaja” pada waktu itu ditunjuk Oto Iskandar Di Nata dan Bratanata.

Penghentian penerbitan seluruh surat kabar di Bandung dan sekitarnya oleh Jepang, kemudian dilebur menjadi surat kabar “Tjahaja”, merupakan bagian dari usaha Jepang untuk mengawasi penerbitan surat kabar secara ketat.

Setelah pendudukan Jepang berakhir, di Bandung tercatat ada penerbitan surat kabar “Soeara Merdeka” yang dipimpin oleh Boerhanoeddin. Begitu Belanda masuk membonceng Sekutu, “Soeara Merdeka” mengungsi ke Tasikmalaya. Pada tanggal 24 Maret 1946 terjadi peristiwa Bandung Lautan Api (BLA) yang membuat masyarakat Bandung mengungsi ke Bandung Selatan, bahkan sempat ke Garut, Tasikmalaya, dan Ciamis. Koran “Soeara Merdeka” pun diungsikan ke Tasikmalaya untuk melanjutkan perjuangannya.
Setelah merdeka, berbagai koran berbahasa Sunda mulai bermunculan di beberapa daerah di Jawa Barat seperti “Sinar Majalengka” (1948) di Majalengka, “Warga” (1954) yang dipimpin oleh Eeng di Bogor, “Kalawarta Kudjang” (1956) di Bandung. Setelah proklamasi kemerdekaan, di masa “Negara Pasoendan” diterbitkan “Harian Persatoean” yang terakhir dikelola Djawatan Penerangan. (wb)

Sumber: Radar Cirebon

CRB Cakrabuana

CRB Cakrabuana

CIREBON CAKRABUANA

Kumpulan Tulisan Tentang Cirebon.

CIAYUMAJAKUNING
Kota Cirebon, Kabupaten Cirebon, Kabupaten Indramayu, Kabupaten Majelengka, dan Kabupaten Kuningan

Entri Populer

Blog Archive

Followers

FeedWitter