Loading...

Koran Pertama Cirebon “Tjiremai”

Friday, 26 September 2014

0 comments
DALAM sejarah pers di Indonesia, surat kabar “Bataviase Nouvelles”, terbit 7 Agustus 1744, surat kabar pertama di Indonesia, penerbitnya Gubernur Jenderal Van Imhoff. Izin terbitnya diberikan kepada Adjunct-Secretaris-General Jorden. Izin terbit enam bulan, kemudian diperpanjang menjadi tiga tahun. Pada tanggal 5 Agustus 1810 terbit “De Bataviasche Koloniale Courant”. Itu zaman Daendels-Inggris.

Penelusuran Radarcirebon.com di Depo Arsip Kota Cirebon, perkembangan pers di Jawa Barat, sejak awal menjadi catatan penting dan strategis dalam sejarah media cetak di Indonesia. Di beberapa daerah di Jawa Barat, baik di Bandung, Bogor, Tasikmalaya, Cirebon, Sukabumi, dan Banten, silih berganti kaum nasionalis menerbitkan surat kabar. Pengelolaan media secara profesional dikembangkan. Idealisme kejuangan mewarnai konten dari media. Media massa, khususnya surat kabar pada masa itu oleh kaum nasionalis digunakan dan dimanfaatkan sebagai alat perjuangan dalam menentang penjajahan Belanda. Karena itulah surat kabar sering berumur tidak panjang dan pimpinannya sering pula berurusan dengan polisi rahasia yang senantiasa mengawasi dan memata-matai kaum pergerakan nasional. Sangat terkenal waktu itu Polisi Rahasia Belanda, PID (Politieke Inlichtingen Dienst). Segala laporan PID menjadi dasar bagi Belanda untuk melakukan tindakan pelarangan penerbitan koran dan memenjarakan orang-orang surat kabar.

Penerbitan surat kabar yang berbahasa Indonesia/Melayu dan surat kabar berbahasa daerah Sunda secara kuantitatif berimbang jumlahnya. Surat kabar berbahasa Sunda tampaknya lebih akrab dengan masyarakat Jawa Barat terutama di daerah Priangan. Asas kedekatan komunitas tampaknya berpengaruh. Ada pula surat kabar yang berbahasa Belanda dan Tionghoa.

Jauh sebelum “Medan Prijaji” terbit, di Cirebon sudah ada surat kabar “Tjiremai” (1890) dalam bahasa Belanda, tertulis Zaterdag, 28 Februari. Koran berbahasa Belanda ini tersimpan di Perpustakaan Nasional RI.

Di Cirebon tercatat “Poesaka Cirebon” pimpinan Darma Atmadja, “Warta Tjirebon” dan “Soeloeh Ra’jat” pimpinan Anwar Djarkasih. Tahun 1932 tercatat “Soeara Poeblik” (Bandung) pimpinan Soejitno dan Liem Koen Hian.

Ada catatan yang tersisa dari perkembangan pers Jawa Barat. Setelah terjadinya pemberontakan “Kaoem Merah” November 1926, sejumlah surat kabar terbit di beberapa kota Jawa Barat, khususnya di Kota Bandung. Tercatat di Bandung terbit koran “Indonesia Moeda”. Terbit pula “Fikiran Ra’jat” yang sangat terkenal dengan tulisan Bung Karno, Indonesia Menggoegat. Pemikiran dan tulisan Bung Karno yang dimuat di “Fikiran Ra’jat” itulah yang membawanya ke sidang pengadilan dan divonis penjara.

Pada tahun 1935 di Bandung tercatat penerbitan koran “Nicork – Express”, koran stensilan pertama di Bandung kemudian menjadi harian dengan Pemimpin Umum/ Pemimpin Redaksi Bratanata. Jajaran redaksinya Djamal Ali dan Ahmad Zainun Soetan Palindih. Selanjutnya terbit “Berita Priangan” dipimpin Ali Ratman dengan Pemred O.K. Yaman dan Bakri Soera Atmadja. Ada pula “Sepakat” dipimpin A. Hamid. Koran Indonesia dipimpin Moh. Koerdie dan Rochdi. “Berita Oemoem” lahir sebagai kelanjutan dari “Berita Priangan” dipimpin Soenarjo Gondokoesoemo dan Ali Tirto Soewirjo.

Ramainya penerbitan koran berbahasa Melayu/Indonesia di Jawa Barat, pada waktu bersamaan diikuti oleh penerbitan berbahasa Sunda. Penerbitan media cetak berbahasa Sunda di kala itu tidak dapat dipisahkan dari pergerakan kaum nasionalis di wilayah Jawa Barat.

Menurut catatan, surat kabar berbahasa Sunda pertama yang diterbitkan di Bandung adalah “Sora-Merdika” pimpinan Moh. Sanoesi. Tahun I No. 3 terbit pada tanggal 1 Mei 1920. Ada pula yang menyatakan, surat kabar pertama berbahasa Sunda itu adalah Soenda Berita, tetapi belum jelas kapan terbitnya. Di masa itu terbit pula “Mingguan Soenda Soemanget” diasuh Tunggono. Mingguan bahasa “Sunda Padjadjaran” dipimpin Haris Soema Amidjaja dan “Siliwangi” diasuh Ema Brata Koesoema. Tercatat pula data terbitnya “Pendawa”, pimpinan Gatot. Terbit pula berkala berbahasa Sunda, “Masa Baroe”, “Sapoedjagad”, “Simpaj” dan “Isteri Merdeka”. Ada pula penerbitan koran “Panglima” di Tasikmalaya.

Di zaman pendudukan Jepang semua surat kabar yang ada di Bandung dan Jawa Barat ditutup. Semuanya disatukan menjadi satu penerbitan yaitu surat kabar “Tjahaja” di bawah pengawasan Sendenbu. Pimpinan “Tjahaja” pada waktu itu ditunjuk Oto Iskandar Di Nata dan Bratanata.

Penghentian penerbitan seluruh surat kabar di Bandung dan sekitarnya oleh Jepang, kemudian dilebur menjadi surat kabar “Tjahaja”, merupakan bagian dari usaha Jepang untuk mengawasi penerbitan surat kabar secara ketat.

Setelah pendudukan Jepang berakhir, di Bandung tercatat ada penerbitan surat kabar “Soeara Merdeka” yang dipimpin oleh Boerhanoeddin. Begitu Belanda masuk membonceng Sekutu, “Soeara Merdeka” mengungsi ke Tasikmalaya. Pada tanggal 24 Maret 1946 terjadi peristiwa Bandung Lautan Api (BLA) yang membuat masyarakat Bandung mengungsi ke Bandung Selatan, bahkan sempat ke Garut, Tasikmalaya, dan Ciamis. Koran “Soeara Merdeka” pun diungsikan ke Tasikmalaya untuk melanjutkan perjuangannya.
Setelah merdeka, berbagai koran berbahasa Sunda mulai bermunculan di beberapa daerah di Jawa Barat seperti “Sinar Majalengka” (1948) di Majalengka, “Warga” (1954) yang dipimpin oleh Eeng di Bogor, “Kalawarta Kudjang” (1956) di Bandung. Setelah proklamasi kemerdekaan, di masa “Negara Pasoendan” diterbitkan “Harian Persatoean” yang terakhir dikelola Djawatan Penerangan. (wb)

Sumber: Radar Cirebon

Babad Cirebon’ Versi Catatan Klenteng Talang

Tuesday, 23 September 2014

0 comments
Klenteng Talang Tempo Doeloe (Foto: Tropen Museum)
Catatan ini berasal dari buku karya Ir. Mangaradja Onggan Parlindungan yang diterbitkan pada tahun 1964 atau 8 tahun sebelum Carita Purwaka Caruban Nagari diterbitkan oleh Drs. Atja, yang mana buku tersebut bejudul Tuanku Rao. Naskah ini menjadi lampiran dalam buku tersebut.

Parlindungan menyatakan bahwa ia menerima bahan-bahan buku itu dari orang Belanda yang bernama Poortman yang naskah aslinya berasal dari arsip kelenteng Talang di Cirebon. Catatan ini juga sudah dipakai oleh Mr. Slametmuljana dalam bukunya tentang munculnya negara-negara Islam di Indonesia yang berbahasa Indonesia pada tahun 1968 yang dilarang beredar pada masa Orde Baru, dan diterbitkan dalam bahasa Inggris dengan judul A Story of Majapahit.

De Graaf dan Pigeaud, dua pakar sejarah dari Belanda menyatakan bahwa ketika pertama kali membaca naskah ini merasa asing dan mengabaikannya akan tetapi kemudian menganggap naskah tersebut sebagai objek studi yang berguna.

Sedangkan M.C. Ricklefs menyatakan bahwa ke hati-hatian jelas sangat dituntut, menerima semua bagian dalam naskah ini secara apa adanya merupakan tindakan yang bodoh.

Isi naskah tersebut tertulis, pemukiman Cina Pertama di Gunung Jati, Cirebon. Tahun 1415, Laksamana Haji Kung Wu Ping, keturunan dari Kong Hu Cu (Confusius) mendirikan menara mercusuar di atas bukit Gunung Jati. Tidak jauh dari situ dibangun pula Komunitas Muslim Cina Hanafi, yaitu di Sembung, Sarindil dan Talang. Masing-masing lengkap dengan masjidnya. Kampung Sarindil ditugaskan menyediakan kayu jati untuk perbaikan kapal-kapal. Kampung Talang ditugaskan untuk memelihara dan merawat pelabuhan. Kampung Sembung ditugaskan memelihara mercusuar. Secara bersama-sama, ketiga kampung Tionghoa Islam Hanafi itu ditugaskan pula memasok bahan-bahan makanan untuk kapal-kapal Tiongkok dinasti Ming. Pada waktu itu, daerah Cirebon penduduknya masih jarang tetapi tanahnya sangat subur karena terletak di kaki gunung Ciremai.

Tahun 1450 – 1475, sebagaimana pantai utara Jawa Timur dan Jawa Tengah, di daerah Cirebon pun Komunitas Cina Muslim Hanafi sudah sangat merosot karena sudah putus hubungan dengan Tiongkok Daratan. Masjid Sarindil sudah menjadi pertapaan karena masyarakat Tionghoa Islam Hanafi di situ sudah tidak ada lagi, sedangkan masjid di Talang sudah menjadi klenteng. Sebaliknya, Masyarakat Tionghoa Islam Hanafi di Sembung sangat berkembang dan sangat teguh imannya di dalam agama Islam. Pada waktu itu perkembangan di Sembung sama seperti di Bagan Siapi-api, Pattani dan Sambas yaitu masyarakat Tionghoa yang terisolasi tetap beragama Islam Hanafi dan tetap menggunakan bahasa Tionghoa untuk mengerjakan ibadah.

Ekspansi Kekuasaan Demak di Jawa Barat, tahun 1526, armada dan tentara Islam Demak singgah di pelabuhan Talang. Ikut serta dalam armada itu seorang Tionghoa Muslim peranakan yang pandai bahasa Tionghoa bernama Kin San. Panglima tentara Demak (Syarif Hidayat Fatahillah) serta Kin San dari Talang pergi ke Sarindil, tempat bertapa Haji Tan Eng Hoat, Imam Sembung. Bersama Haji Tan Eng Hoat, tentara Islam Demak secara damai memasuki Sembung.

Atas nama Raja Islam Demak, Panglima Tentara Demak memberikan gelar kepada Haji Tan Eng Hoat, Imam Sembung. Bunyi gelar itu, “Mu La Na Fu Di Li Ha Na Fi”. Tentara Demak kembali ke kapal dan berlayar ke barat. Kin San satu bulan bertamu pada Haji Tan Eng Hoat.

Sultan Trenggana memberikan gelar “Maulana-Ifdil Hanafi” kepada Haji Tan Eng Hoat. Dengan demikian, Jafar Sadik gelar Sunan Kudus mengizinkan Haji Tan Eng Hoat, di daerah Cirebon tetap beragama Islam Madzhab Hanafi dengan terus menggunakan bahasa Tionghoa dalam menjalankan ibadah. Mereka tidak dipaksakan harus beralih ke madzhab Syafi’i yang ibadahnya menggunakan bahasa Arab.

Berdirinya Kesultanan Cirebon, tahun 1552, setelah seperempat abad, Panglima Tentara Demak datang lagi ke Sembung, tanpa tentara. Haji Tan Eng Hoat terheran-heran. Kabarnya, Panglima Tentara Demak pernah menjadi Raja Islam di Banten. Dia sangat kecewa mendengar pembunuhan-pembunuhan dikalangan keturunan Jin Bun di Demak. Dia pun tidak mau tunduk kepada Sultan Pajang, karena di Kesultanan Pajang, Madzhab Syi’ah sangat berpengaruh. Bekas Panglima Tentara Demak bertapa seumur hidup di Sarindil. Haji Tan Eng Hoat menceritakan bahwa masyarakat Tionghoa Islam di Sembung pun sudah sejak 4 generasi putus hubungan dengan Yunnan yang Islam. Sebaliknya, orang-orang Tionghoa keturunan Hokkian yang bukan Islam sudah sangat kuat di daerah Cirebon. Haji Tan Eng Hoat sendiri adalah keturunan Hokkian yang cuma sangat sedikit sekali yang mau masuk Islam. Haji Tan Eng Hoat meminta kepada bekas Panglima Tentara Demak supaya membimbing masyarakat Tionghoa Islam di Sembung mendirikan suatu Kesultanan sebagaimana Jin Bun di Demak dahulu. Tidak ada jalan lain untuk menjamin masyarakat Tionghoa dan madzhab Hanafi, kecuali melepaskan diri dari Demak. Walaupun sudah tua, bekas Panglima Tentara Demak itu menerima permintaan itu.

Tahun 1552 – 1570, dengan bantuan masyarakat Islam Tionghoa Sembung, bekas Panglima Tentara Demak itu mendirikan Kesultanan Cirebon yang berpusat di tempat Keraton Kesepuhan sekarang. Sembung ditinggalkan dan menjadi pekuburan Islam. Penduduk Sembung hijrah dengan nama-nama Islam dan nama-nama Indonesia asli menempati kota Cirebon yang baru muncul. Sultan Cirebon yang pertama tentu saja bekas Panglima Tentara Demak sendiri. Dia segera membentuk tentar Islam dari bekas penduduk Sembung. Orang-orang Tionghoa yang non-Islam terpaksa tunduk kepada Tentara Tionghoa Islam Cirebon yang baru dibentuk itu.

Tahun 1553, supaya ada ibu negara di Kesultanan Cirebon yang baru tampil itu, maka Sultan Cirebon pertama (yang sudah lanjut usianya) menikah dengan putri Haji Tan Eng Hoat alias Maulana Ifdil Hanafi. Dari Sembung, penganten putri diarak ke Keraton dengan kebesaran, seolah-olah dari istana kaisar-kaisar Tiongkok Dinasti Ming pada zaman Laksamana Haji Sam Po Bo. Sang putri dikawal oleh sepupunya, Tan Sam Cai.

Tahu 1553 – 1564, Haji Tan Eng Hoat alias Maulana Ifdil Hanafi dengan gelar Pangeran Adipati Wirasenjaya menjadi Raja Muda bawahan Kesultanan Cirebon. Secara de jure berkuasa sampai ke Samudera India, secara de facto berkedudukan di dekat Kadipaten. Dari situ beliau sangat berjasa dalam mengembangkan agama Islam Madzhab Syafi’i dalam bahasa Sunda di pedalaman Priangan Timur sampai ke Garut.

Lalu, tahun 1564, Haji Tan Eng Hoat wafat di dalam ekspedisi militer merebut kerajaan Galuh yang beragama Hindu. Jenazahnya dimakamkan di daerah Galuh, di sebuah pulau di tengah suatu danau.

Karier Tan Sam Cai di Cirebon, tahun 1569 – 1585, Tan Sam Cai yang tidak pernah suka memakai nama Muhammad Syafi’i bergelar Tumenggung Aria Dipa Wiracula menjadi Menteri Keuangan Kesultanan Cirebon. Dia sangat setia mengunjungi Klenteng Talang untuk membakar hio. Walaupun demikian, secara finansial Tan Sam Cai sangat berjasa memperkuat Kesultanan Cirebon, sehingga dia tetap dipertahankan. Sebagaimana sultan Turki, Tan Sam Cai mendirikan harem tempat simpanan ratusan gula-gula kaki dua yakni di Istana Sunyaragi.

Tahun 1570, Sultan Cirebon pertama wafat dan digantikan oleh putra beliau yang dilahirkan oleh putri Cina. Karena Sultan Cirebon yang kedua masih muda remaja, maka Tan Sam Cai secara de facto menguasai Kesultanan Cirebon. Yang menentang kekuasaan Tan Sam Cai hanyalah Haji Kung Sem Pak alias Muhammad Nurjani, keturunan Laksamana Haji Kung Wu Ping. Ia menjadi Pakuncen dan tinggal di Sembung.Tahun 1585, Tan Sam Cai wafat termakan racun di harem Sunyaragi. Jenazahnya ditolak oleh Haji Kung Sem Pak dari pemakaman para pembesar Kesultanan Cirebon di Sembung. Dalam hujan lebat terpaksa jenazahnya dibawa kembali ke Cirebon! Atas permintaan istrinya (= Nurleila binti Abdullah Nazir Loa Sek Cong), jenazah Tan Sam Cai dimakamkan secara Islam di pekarangan rumahnya sendiri. Walaupun dia dikuburkan secara Islam, tetapi atas permintaan penduduk Tionghoa non-Islam, di Klenteng Talang, diadakan pula upacara naik arwah untuk mendiang Tan sam Cai. Namanya dituliskan dengan tulisan Tionghoa di atas kertas merah, supaya disimpan di Klenteng Talang untuk selama-lamanya. Tan Sam Cai dengan nama Sam Cai Kong, menjadi orang suci yang mengabulkan do’a. (wb)

Sumber: Radar Cirebon

Budaya Cirebon : Posmo pada Masanya

Monday, 22 September 2014

0 comments
KEBUDAYAAN lahir antara lain karena kreativitas manusia yang menghendaki adanya harmonisasi dalam pergaluan sosial. Namun kebudayaan bukan merupakan satu-satunya norma yang menjadi tolok ukur pergaulan sosial. Lantaran masyarakat Cirebon juga memiliki watak beragama yang relatif cukup taat, maka pesan-pesan agama pun kerap membingkai kebudayaan. Bahwa kebudayaan adalah puncak kreativitas manusia, sehingga dengannya tercipta interaksi dengan budaya (dan masyarakat) lain, fakta ini akan lebih memiliki nuansa spiritual dengan masuknya pesan-pesan ajaran agama.


Cirebon sebagai daerah pantai Utara Pulau Jawa bagian Barat dalam konteks sejarahnya terbukti mampu melahirkan kebudayaan yang berangkat dari nilai tradisi dan agama. Tak pelak kesenian yang mengiringi kebudayaan Cirebon memasukkan unsur-unsur agama di dalamnya. Dalam kaitan ini kesenian yang pada mulanya merupakan sarana dakwah agama (Islam) menjadi semacam oase di padang gurun. Betapa tidak. Syekh Syarif Hidayatullah yang juga dikenal dengan nama Sunan Gunungjati bermukim di Cirebon mengembangkan agama melalui pendekatan kultural.


Artinya budaya lokal yang telah hidup jauh sebelum kedatangan beliau ke Cirebon tetap dipelihara, namun disisipi ajaran agama. Misalnya masuknya do`a-do`a yang bersumber dari ajaran Islam manakala masyarakat Cirebon melakukan ritual budayamitoni (upacara kehamilan tujuh bulan anak pertama). Begitu pula kebiasaan dalang wayang kulit Cirebon menyisipkan hadis Nabi Muhammad saw, bahkan ayat suci Alqur`an ketika mendalang. Kesenian tayub pun ternyata diambil dari bahasa Arab, yakni thoyib yang berarti baik. Pentas seni tradisi Cirebon umumnya memang memiliki spiritualitas Islam. Sebuah kolaborasi menarik antara nilai kultur dengan nilai agama.


Kebudayaan Cirebon yang bukan Jawa dan bukan Sunda itu akhirnya memiliki ciri khas sendiri. Yakni adanya keberanian untuk mengadopsi nilai lama dengan nilai baru (saat itu) saat agama Islam mulai diajarkan Sunan Gunungjati. Dalam pentas kesenian panggung, asimilasi budaya terlihat jelas. Nilai budaya masyarakat pantai dipadukan dengan nilai agama. Tak heran jikalau kenyataan ini mengundang nilai tambah yang patut disyukuri. Artinya postmodernis sudah berlangsung dalam kesenian tradisi Cirebon. Keberanian seniman tradisi memasukkan unsur baru (ajaran agama Islam) pada kesenian lokal agaknya sepadan dengan nilai posmo.


Buah post modernis kesenian tradisi Cirebon itu dipelihara dan dijaga dari kepunahan. Kendati harus terseok-seok menghadapi tantangan, terutama kemunculan seni pop yang lebih mampu mengundang publik serta kepraktisan alat musiknya ~namun seni tradisi tetap terpelihara. Gamelan yang mengiringi seni tradisi Cirebon, harus diakui kini semakin sedikit yang mampu (dan mahir) memainkannya. Malah usia para penabuh gamelan itu rata-rata sudah renta. Sekolah karawitan dan seni tradisi Cirebon tergolong sepi peminat. Akan tetapi bila sesekali datang ke Sanggar Sekar Pandan yang berlokasi di Jagastru samping pasar, Anda akan melihat pelajar SMP dan SLTA Cirebon giat berlatih memainkan gending-gending Cirebonan, tari Topeng Cirebon, termasuk tari kreasi buah tangan Elang Heri Komarahadi dan kawan-kawan. Begitu pula sekecil apa pun, peran pemerintah daerah masih tampak untuk memelihara seni tradisi Cirebon.


Dengan kata lain kekuatan seni tradisi Cirebon yang berangkat dari filosofi kultural dan spiritualitas agama Islam, hingga kini masih bisa kita saksikan. Kenyataan ini makin disyukuri dengan munculnya sanggar seni tradisi di berbagai tempat di Cirebon.


Berbicara kebudayaan Cirebon tentu tak lepas dari budaya pantai. Laut Jawa yang menyediakan kandungannnya terus dirasakan manfaatnya dan menghidupi nelayan. Ungkapan rasa syukur atas pemberian Tuhan mengenai ikan yang tiada habisnya di Laut Jawa itu, di Cirebon pun dikenal Nadran, sebuah ritual persembahan nelayan atas rasa syukur kepada Tuhan. Nadran juga biasa disebut pesta laut atau syukur pesisiran. Sebuah kegiatan yang tidak hanya menampilkan karnaval kesenian tetapi juga memasukkan unsur spiritualitas agama. Hasil panen kebun dan sawah pun turut dalam karnaval. Nadran dengan kata lain merupakan pertalian manusia (nelayan) dengan alam dan Tuhan.


Masih banyak kesenian tradisi Cirebon yang berangkat dari perpaduan kultural dan spiritual yang sampai sekarang masih dapat kita saksikan. Meski kesenian tradisi itu tergolong jarang tampil di hadapan publik, namun sesekali masih memperlihatkan sosoknya. Sebut saja masres, sandiwara tradisional yang kerap menayangkan kisah masyarakat Cirebon ~utamanya sejarah sejak islamisasi meruyak di pedukuhan sunyi yang kelak bernama Cirebon. Masres ini tergolong unik karena beberapa hal. Pertama, campur tangan sutradara yang tidak dominan : pemain bebas berimprovisasi sepanjang tidak membias dari inti cerita. Kedua, profesi keseharian para pemainnya yang beragam seperti tukang becak, pembantu rumah tangga, nelayan, dan petani. Ketiga, terlibatnya pelukis kanvas dengan menampilkan setting panggung untuk layar cerita berupa beberapa lukisan dengan media cat sesuai episode cerita. Sanggar masres yang dapat dijumpai di pantura Cirebon (kecamatan Kapetakan kabupaten Cirebon) ini setidaknya menunjukkan adanya kesungguhan mempertahankan seni lokal, betapa pun harus berhadapan dengan sejumlah realitas kekinian.

Dapat dibayangkan, masres dengan jumlah pemain panggung bisa mencapai 30 orang lebih dan 20 nayaga, dua orang sinden, empat orang yang mengurus properti, dan seorang narator; ternyata juga menampilkan “perkelahian” di panggung. Perkelahian dimaksud bukan sebagai pelengkap cerita karena (mungkin saja) dalam proses islamisasi pada masanya tidak lepas dari adu kesaktian antar tokoh untuk mempertahankan eksistensi masing-masing. Maka masres menghadirkan pemain silat dengan golok di panggung. Artinya kesenian ini boleh disebut lengkap dengan segala keahlian spesifik para pemainnya. Keberadaan masres pun bermakna kekuatan sastra lisan di masyarakat tersebut.


Berkaca dari kuatnya kisah/ sejarah Cirebon dalam benak masyarakatnya lantas dapat dituangkan dalam bentuk seni pertunjukkan, merupakan berkah tersendiri. Betapa cerita lisan yang berkembang itu terekam begitu kuat. Kenyataan inilah yang menjadi alasan sutradara kenamaan Arfin C. Noer mengatakan, “Kalau ingin belajar teater datanglah ke Cirebon!”. Maksudnya, apalagi kalau bukan masres.


BUDAYA Cirebon yang kabarnya merupakan budaya serapan Jawa (Kerajaan Mataram) dan Sunda (Kerajaan Sunda Kalapa) itu menempati posisi unik. Dua budaya besar di pulau Jawa itu bertemu di Cirebon. Budaya serapan itu pun makin lengkap bersintesa dengan spiritualitas Islam. Inilah keberbagaian budaya Cirebon. Dan keberbagaian tadi mengisi ruang kesenian lokal. Dari sinilah kemudian muncul seniman rakyat. Seniman yang asik berkarya tanpa terpaku pada intruksi sutradara, sementara ketika tidak manggung mereka menjalani profesi kesehariannya.


Jikalau kadang muncul anggapan adanya nilai mistis yang diam-diam menyeruak pada seni tradisi Cirebon, misalnya keberadaan dupa dan kemenyan, atau kembang tujuh warna ~hal itu sama sekali bukan media mengundang kekuatan supra natural. Melainkan asap kemenyan dan bunga itu merupakan peninggalan kultur Jawa yang berangkat dari ajaran Hindu. Sintren misalnya kerap diduga bernuansa mistis. Hal ini patut diluruskan karena bekal latihan yang memadai maka dalam waktu sekejap seorang perempuan dengan tubuh terikat dan dimasukkan ke dalam kurungan ayam dapat mengganti kostumnya.


Menyikapi seni tradisi kiranya perlu memiliki kearifan tersendiri. Kita mesti mengetahui proses perkembangannya seiring perjalanan sejarah yang membingkai muasal seni tradisi itu. Kalau pun kritikus sastra HB Jassin menyebut bahwa sastra lama bersifat mistis religius, saya pikir tidak serta merta sastra lama itu berpegang erat pada kekuatan mistis, mantra atau supra natural. Mistisisme itu sebatas pelengkap, sekaligus untuk mengundang rasa penasaran penonton. Apalagi penonton masa kini yang relatif mengenyam pendidikan formal cukup memadai.


Bersepakat dengannya, kebudayaan Cirebon (yang salah satu bentuknya berupa seni tradisi) boleh dikata komprehensif, lengkap dengan berbagai kekuatan imajinasi penggagasnya. Inilah sebabnya kebudayaan Cirebon setara dengan post modernis pada masanya. Betapa nilai-nilai lama tetap dipelihara lantas ia bersintesa dengan nilai-nilai baru. Perpaduan keduanya itulah yang lantas membentuk budaya baru.

Seiring perjalanan waktu, dukuh yang semual sunyi itu terus berkembang. Kepemimpinan awal di tangan Mbah Kuwu Cirebon (Pangeran Cakrabuana) kemudian berlanjut melahirkan pemimpin generasi berikutnya. Heterogenitas pun tak terelakkan. Bahkan sejak awal pun dukuh sunyi itu telah didatangi imigran asal Arab, India, dan Cina. Dukuh sunyi itu pun merangkak dan berkembang setelahwitana (wit = tanaman, ana = ada) di sekitar Pecinan ~Lemahwungkuk~ yang berbatasan dengan pesisir laut Jawa. Imigran Arab, India, dan Cina itu pun mengembangkan budaya asalnya. Dan Cirebon menerima kebudayaan ketiganya lalu memformula suatu bentukan baru. Bentuk baru inilah yang bernama budaya Cirebon. Asimilasi budaya tersebut semakin variatif sejak kehadiran VOC di Jawa. Tak heran apabila kereta kencana Paksinagaliman dan Singa Barong mengambil prototipe campuran budaya Cina, India, dan Arab.


Kuil, vihara, klenteng, mesjid, gereja dibangun berdekatan namun masyarakat tidak bergolak. Tidak ada pengrusakan rumah ibadah. Yang ada adalah harmonisasi masyarakat untuk menjaga keajegan budaya masing-masing. Kekuatan inilah yang patut dijaga agar tetap harmonis. Agar budaya yang terkadang saling ingin mendesakkan keinginannya sendiri itu tetap saling menghormati. Dan uniknya para leluhur Cirebon berhasil memadukan perbedaan budaya itu pada satu wadah (formula) baru yang bernama budaya Cirebon.

Post modernis yang ramai dibincangkan pada tahun 1990 di Indonesia sebenarnyalah telah lama diterapkan leluhur Cirebon. Dengan kreativitasnya leluhur Cirebon berhasil menggali nilai lama dan meraciknya dengan nilai baru. Saya yakin inilah kekuatan kebudayaan Cirebon. Kekuatan yang berproses memakan waktu dan tetap terjaga dari desakan budaya baru lain yang lahir belakangan.


Masalah yang terus mengganjal dalam perkembangan budaya Cirebon antara lain (dan ini yang terkuat) ialah keengganan para pemilik kebudayaan itu memelihara dan merasa nyaman dengan kebudayaannya. Kini generasi muda banyak berpaling ke budaya lain yang lebih instan serta kurang mampu mencintai kebudayaannya sendiri. Budaya-budaya instan lengkap dengan berbagai kemudahan dan aksesorinya memukau sejumlah anak muda. Ciri tersebut tampak pada ketidakmampuan berbahasa Cirebon, dan jika mampu itu pun hanya sebatas bahasa pergaulan yang dikenal dengan istilah bagongan. Kirik dan ketek, serta ira dan isun tanpa mengenal kosa kata halus memang masih ada dan terdengar dalam percakapan anak-anak muda. Namun sama sekali abai dengan keseniannya, dan lebih luas dengan kebudayaannya sendiri yang telah mengalami berbagai hantaman zaman. Anak-anak muda telah berpaling ke budaya pop.

Jikalau keadaan ini tidak segera dibenahi, ada kekhawatiran anak-anak muda itu akan terasing dari kebudayaannya. Dan segera setelah itu mereka akan beranggapan bahwa budaya Cirebon cukuplah diletakkan di museum, atau sekadar ada ketika dibincangkan budayawan tua di ruang seminar. Keterasingan terhadap kebudayaan sendiri pada gilirannya akan menghempas kebudayaan pada kondisi yang menguntungkan. Kebudayaan bagai sebuah nilai lama yang layak ditinggalkan lantas digantikan kebudayaan baru yang lebih mampu menawarkan subjektivitas.


Budaya Cirebon tidak sekadar mengutamakan subjektivitas, melainkan dengan kemampuan adaptasinya, ia telah bersintesa dengan kebutuhan pada zamannya. Lihatlah ritual mapag sri misalnya. Sesaat menjelang menanam padi di sawah, para petani mempersembahkan rasa syukur kepada Tuhan karena alam telah demikian berdamai memberikan panen. Dewi Sri sebagaimana diketahui adalah penjelmaan dewi padi yang bertugas antara lain menyuburkan tanah pertanian sehingga padi tumbuh dengan sempurna. Adaptasi budaya Hindu dengan ajaran Islam sebelum menanam padi, kini semakin jarang terlihat. Teknologi dan mesin telah menyingkirkan mapag sri.


Budaya dengan demikian erat kaitannya dengan pengetahuan manusia pada zamannya. Tapi ia tetap memperhitungkan aspek sosial dan ekonomi. Dan budaya pulalah yang mengantarkan manusia pemilik kebudayaan itu melakukan interaksi dengan alam sekitarnya. Harmonisasi pun tercipta lantaran dilandasi oleh kebudayaan.


Tantangan kebudayaan lainnya yang cukup signifikan ialah menyoal keberadaan budaya itu di tengah perubahan. Kerap muncul pertanyaan, mampukah kebudayaan lama memberi manfaat secara langsung kepada kekuatan globalisasi? Kedua, kebudayaan lama akan tergerus dan habis dimakan kekuatan global karena ia hanya berkutat pada nilai lama, sementara globalisasi membincangkan situasi terkini yang mencengkeram segenap umat manusia di seluruh dunia. Globalisasi itu lintas komunitas dan lintas geografis, sedangkan budaya lama masih terbingkai oleh batas komunitas dan geografis. Maka pertarungan global pun diam-diam meredusir budaya lama. Orang-orang berpaling lantas mendekap globalisasi yang terkesan lebih memberi jawaban ketimbang budaya lama.


MEMBICARAKAN budaya Cirebon juga tak lepas dari adanya pepatah lama atau yang lebih dikenal dengan nama wangsalan. Wangsalan merupakan metode pembelajaran yang dilakukan orang tua kepada anak-anaknya. Untuk menerangkan kosmologi dan geografi secara mudah, orang tua menggunakan wangsalan :Nungsitu Nangsiton artinya gunung isie watu nagka isie beton, Tangkehteng Lanjidang artinya bintang akeh peteng bulan siji padang. Untuk menerangkan terjadinya demoralisasi, wangsalan itu berbunyi: wong lanang ilang prawirae wong wadon ilang wirange artinya laki-laki kehilangan keperwiraannya perempuan hilang rasa malunya. Untuk menjelaskan kemajuan zaman karena teknologi yang terus berkembang, wangsalan diumpakan sebagaimana ngko bakal akeh wong ngomong dewek kaya wong edan. Ini menandakan semakin banyak orang bicara sendiri (melalui telepon) mirip orang gila.


Kekayaan budaya inilah yang membingkai Cirebon sebagai komunitas dengan berbagai cirinya. Ciri tersebut lantas merangkai dalam keseharian masyarakat Cirebon karena betapa pun perubahan zaman terus berlangsung, budaya warisan leluhur itu tetap dijaga (kendati tak kuasa menahan serangan budaya lain). Termasuk diantaranya sastra lisan, sastra yang pada mulanya disenandungkan ibu ketika hendak menidurkan anaknya. Kekuatan sastra lisan selain berfungsi sebagai transfer pepatah, ia pun merupakan jalinan kedekatan batin antara ibu dengan anak. Sisi menarik inilah yang jadi penguat budaya Cirebon.


Akan tetapi membicarakan Cirebon juga berarti membicarakan pertemuan dua budaya besar yang mengapitnya. Budaya Sunda dan Jawa yang mengapit budaya Cirebon, tak pelak hingga kini masih saling berebut kuasa di Cirebon. Tak terasa perebutan kuasa budaya itu menghadirkan penolakan bahwa Cirebon bukan Sunda dan bukan Jawa. Budaya Cirebon merupakan budaya serapan dari berbagai budaya besar yang singgah di wilayahnya. Kondisi faktual inilah yang jadi penyebab adanya budaya Sunda dan Jawa di Cirebon, terlihat misalnya dalam penggunaan bahasa Sunda dan Jawa.


Yang tak kalah penting adalah keberanian leluhur Cirebon melawan penindasan dan kolonialisme. Sejarah Cirebon dalam hal perlawanan kepada Belanda dapat dilihat secara gamblang dalam Pemberontakan Cirebon 1818 dari sebuah desa Kedongdong dengan pimpinan utamanya: Ki Bagus Rangin, Ki Bagus Serit, dan Ki Bagus Arsitem. Konon pemberontakan ini merupakan perlawanan kaum santri pertama kali yang terjadi di Indonesia. Kabarnya pula pemberontakan ini cukup mengganggu stabilitas ekonomi negeri Belanda.


Dengan kata lain keperwiraan leluhur Cirebon merupakan mata rantai sejarah nasional. Artinya pemberontakan Cirebon 1818 menginspirasi gerakan lain untuk melawan kesewenangan (despotisme) kaum kolonial. Pemberontakan Cirebon 1818 kiranya patut diketengahkan kembali agar keperwiraan tidak serta merta hilang dari kepribadian masyarakat Cirebon.
Source: Kompasiana/Dadang Kusnandar

CRB Cakrabuana

CRB Cakrabuana

CIREBON CAKRABUANA

Kumpulan Tulisan Tentang Cirebon.

CIAYUMAJAKUNING
Kota Cirebon, Kabupaten Cirebon, Kabupaten Indramayu, Kabupaten Majelengka, dan Kabupaten Kuningan

Entri Populer

Blog Archive

Followers

FeedWitter