Memuat...

Sejarah Kerajaan Banten, Kerajaan Cirebon & Kerajaan Makassar

Minggu, 21 Agustus 2011

Kerajaan Banten
Sultan pertama Kerajaan Banten ini adalah Sultan Hasanuddin yang
memerintah tahun 1522-1570. Ia adalah putra Fatahillah, seorang panglima
tentara Demak yang pernah diutus oleh Sultan Trenggana menguasai bandarbandar
di Jawa Barat. Pada waktu Kerajaan Demak berkuasa, daerah Banten
merupakan bagian dari Kerajaan Demak. Namun setelah Kerajaan Demak
mengalami kemunduran, Banten akhirnya melepaskan diri dari pengaruh
kekuasaan Demak.
Jatuhnya Malaka ke tangan Portugis (1511) membuat para pedagang
muslim memindahkan jalur pelayarannya melalui Selat Sunda. Pada masa
pemerintahan Sultan Hasanuddin, Kerajaan Banten berkembang menjadi pusat
perdagangan. Hasanuddin memperluas kekuasaan Banten ke daerah penghasil
lada, Lampung di Sumatra Selatan yang sudah sejak lama mempunyai hubungan
dengan Jawa Barat. Dengan demikian, ia telah meletakkan dasar-dasar bagi
kemakmuran Banten sebagai pelabuhan lada. Pada tahun 1570, Sultan Hasanuddin
wafat.
Penguasa Banten selanjutnya adalah Maulana Yusuf (1570-1580), putra
Hasanuddin. Di bawah kekuasaannya Kerajaan Banten pada tahun 1579
berhasil menaklukkan dan menguasai Kerajaan Pajajaran (Hindu). Akibatnya
pendukung setia Kerajaan Pajajaran menyingkir ke pedalaman, yaitu daerah
Banten Selatan, mereka dikenal dengan Suku Badui. Setelah Pajajaran
ditaklukkan, konon kalangan elite Sunda memeluk agama Islam.
Maulana Yusuf digantikan oleh Maulana Muhammad (1580-1596). Pada
akhir kekuasaannya, Maulana Muhammad menyerang Kesultanan Palembang.
Dalam usaha menaklukkan Palembang, Maulana Muhammad tewas dan
selanjutnya putra mahkotanya yang bernama Pangeran Ratu naik takhta.
Ia bergelar Sultan Abul Mufakhir Mahmud Abdul Kadir. Kerajaan Banten
mencapai puncak kejayaan pada masa putra Pangeran Ratu yang bernama
Sultan Ageng Tirtayasa (1651-1682). Ia sangat menentang kekuasaan Belanda.Usaha untuk mengalahkan orang-orang Belanda yang telah membentuk
VOC serta menguasai pelabuhan Jayakarta yang dilakukan oleh Sultan Ageng
Tirtayasa mengalami kegagalan. Setelah pemerintahan Sultan Ageng Tirtayasa,
Banten mulai dikuasai oleh Belanda di bawah pemerintahan Sultan Haji.



Kerajaan Cirebon
Pada masa kekuasaan Kerajaan Pajajaran sekitar abad ke-16 M, Cirebon
merupakan salah satu daerah kekuasaannya. Selanjutnya Cirebon berada
di bawah pengaruh Kesultanan Demak. Menurut cerita di Jawa Barat, pendiri
kerajaan Cirebon adalah Sunan Gunung Jati yang juga sebagai salah seorang
walisongo yang menyebarkan Islam di Jawa Barat. Nama Sunan Gunung
Jati juga sering dikaitkan dengan berdirinya Jayakarta atau Jakarta yang semula
bernama Sunda Kelapa.
Menurut cerita di Banten, Sunan Gunung Jati adalah Faletehan yang
berkeinginan untuk menyebarkan Islam di kota-kota penting Pajajaran. Akan
tetapi, sumber-sumber sejarah Cirebon mencatat bahwa Sunan Gunung Jati dan Faletehan atau Fatahillah adalah dua orang yang berbeda. Menurut sumber
tersebut Faletehan adalah menantu Sunan Gunung Jati yang menikahi anaknya
Nyai Ratu Ayu. Faletehan kemudian menjadi Raja Cirebon setelah mertuanya
wafat tahun 1570. Pada masa pemerintahan Fatahillah, Kesultanan Cirebon
berkembang sebagai pusat perdagangan dan pusat penyebaran agama Islam
di Jawa Barat.
Dari Cirebon, Sunan Gunung Jati mengembangkan Islam ke Majalengka,
Kuningan, Kawali, Banten, dan daerah lainnya di Jawa Barat. Pada tahun
1570, Sunan Gunung Jati wafat dan dimakamkan di Gunung Jati Cirebon
Jawa Barat.

Kerajaan Makasar (Goa dan Tallo)
Makassar tumbuh menjadi pusat perdagangan di Indonesia bagian Timur.
Hal ini disebabkan letak Makassar yang strategis dan menjadi bandar penghubung
antara Malaka, Jawa, dan Maluku. Lemahnya pengaruh Hindu-Buddha di
kawasan ini menyebabkan nilai-nilai kebudayaan Islam yang dianut oleh masyarakat
di Sulawesi Selatan menjadi ciri yang cukup menonjol dalam aspek
kebudayaannya. Kerajaan Makassar mengembangkan kebudayaan yang
didasarkan atas nilai-nilai Islam dan tradisi dagang. Berbeda dengan kebudayaan
Mataram yang bersifat agraris, masyarakat Sulawesi Selatan memiliki tradisi
merantau. Keterampilan membuat perahu phinisi merupakan salah satu aspek
dari kebudayaan berlayar yang dimiliki oleh masyarakat Sulawesi Selatan.
Islam masuk ke daerah Makassar melalui pengaruh Kesultanan Ternate
yang giat memperkenalkan Islam di sana. Raja Gowa yang bernama Karaeng
Tunigallo selanjutnya masuk Islam setelah menerima dakwah dari Dato Ri
Bandang. Selanjutnya Karaeng Tunigallo memakai gelar Sultan Alaudin
Awwalul-Islam (1605-1638).
Pada masa pemerintahan Sultan Hasanuddin
(1654-1660), Kerajaan Makassar mencapai
puncak kejayaannya. Ia berhasil membangun
Makassar menjadi kerajaan yang menguasai jalur
perdagangan di wilayah Indonesia Bagian Timur.
Pada masa Hasanuddin terjadi peristiwa yang
sangat penting. Persaingan antara Goa-Tallo
(Makassar) dengan Bone yang berlangsung cukup
lama diakhiri dengan keterlibatan Belanda dalam
Perang Makassar (1660-1669). Perang ini juga
disulut oleh perilaku orang-orang Belanda yang
menghalang-halangi pelaut Makassar membeli
rempah-rempah dari Maluku dan mencoba ingin
memonopoli perdagangan.
Keberaniannya melawan Belanda membuat Sultan Hasanuddin dijuluki
“Ayam Jantan dari Timur oleh orang-orang Belanda sendiri. Dalam perang
ini Hasanuddin tidak berhasil mematahkan ambisi Belanda untuk menguasai
Makassar. Dengan terpaksa, Makassar harus menyetujui Perjanjian Bongaya
(1667) yang isinya sesuai dengan keinginan Belanda, yaitu:
1) Belanda memperoleh monopoli dagang rempah-rempah di Makassar;
2) Belanda mendirikan benteng pertahanan di Makassar;
3) Makassar harus melepaskan daerah kekuasaannya berupa daerah di
luar Makassar;
4) Aru Palaka diakui sebagai Raja Bone.
Walaupun perjanjian sudah ditandatangani, tetapi Sultan Hasanuddin tetap
berjuang melawan Belanda. Setelah Benteng Sombaopu jatuh ke tangan
Belanda, Sultan Hasanuddin turun takhta. Kekuasaannya diserahkan kepada
putranya, Mappasomba.

Sumber : http://id.shvoong.com

1 komentar:

Anonim mengatakan...

mmmmmmmmm

Poskan Komentar

CRB Cakrabuana

CRB Cakrabuana

CIREBON CAKRABUANA

Kumpulan Tulisan Tentang Cirebon.

CIAYUMAJAKUNING
Kota Cirebon, Kabupaten Cirebon, Kabupaten Indramayu, Kabupaten Majelengka, dan Kabupaten Kuningan

Entri Populer

Blog Archive

Followers

FeedWitter